BANDAR LAMPUNG — Universitas Malahayati kembali memperkuat kontribusinya dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang memperoleh pendanaan hibah dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026 melalui platform BIMA.

Program yang mengusung tema “Penguatan Nilai Tradisi melalui Transformasi Teknologi untuk Revitalisasi Produksi dan Pemasaran IKM Ukir Lampung sebagai Warisan Ekonomi Kreatif Berkelanjutan” ini diketuai oleh Reza Hardian Pratama, S.E., M.M., dosen Program Studi Manajemen Universitas Malahayati. Tim pelaksana melibatkan Rezania Agramanisti Azdy, S.Kom., M.Cs. dari Universitas Bina Darma dan Dr. Febrianty, S.E., M.Si. dari Universitas Malahayati, serta didukung mahasiswa pembantu Fadly Yoviansyah Putra dan Galih Iman Pramujati.

Mitra program adalah IKM Ukir Lampung yang dipimpin Agus Suprayoga dan berlokasi di Langkapura, Kemiling, Bandar Lampung, dengan sekitar 15 anggota pengrajin. IKM ini memiliki kekuatan pada keterampilan dan kekayaan motif tradisional Lampung, seperti motif tapis, tampan, pelepai, inuh, kaligrafi, ornamen rumah adat, serta berbagai simbol budaya Lampung. Melalui program PKM ini, ketua tim bersama seluruh pelaksana memberikan dukungan langsung berupa teknologi tepat guna dan mesin produksi, pendampingan quality control dan SOP produksi, pengembangan website UkirLampung.com, e-katalog, WhatsApp Business, optimalisasi media sosial, serta pelatihan dan pendampingan kepada para pengrajin. Bantuan tersebut diarahkan agar IKM mampu meningkatkan kapasitas produksi, memperbaiki kualitas, mempercepat proses kerja, mengembangkan produk baru, sekaligus memiliki kemampuan mengelola pemasaran secara digital.

Pelaksanaan program tidak berhenti pada pemberian alat dan teknologi, tetapi dilanjutkan dengan pelatihan, praktik, pendampingan, monitoring, dan evaluasi hingga mitra mampu menggunakan teknologi serta menjalankan sistem pemasaran digital secara mandiri. Targetnya antara lain meningkatkan kapasitas produksi sekitar 15–20 persen, mengurangi waktu produksi sekitar 30 persen, melatih sedikitnya 15 pengrajin dalam penggunaan peralatan produksi, serta menghasilkan dua prototipe produk unggulan yang tetap mempertahankan karakter budaya Lampung namun lebih sesuai dengan kebutuhan pasar modern. Pada sisi pemasaran, website dan e-katalog akan dikembangkan untuk menampilkan lebih dari 30 produk unggulan, dilengkapi storytelling mengenai filosofi dan nilai budaya Lampung. WhatsApp Business dan media sosial juga dioptimalkan sebagai sarana komunikasi, promosi, pelayanan konsumen, dan perluasan pasar.

Ketua tim PKM Reza Hardian Pratama, S.E., M.M. menegaskan bahwa teknologi dalam program ini bukan untuk menggantikan tradisi, tetapi menjadi sarana agar tradisi dapat semakin berdaya, bernilai ekonomi, dikenal, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Melalui integrasi mesin produksi, teknologi digital, website, WhatsApp Business, pelatihan, dan pendampingan berkelanjutan, IKM Ukir Lampung diharapkan mampu menjadi usaha yang semakin mandiri dan kompetitif, dengan tetap mempertahankan identitas budaya Pepadun dan Saibatin. Ke depan, produk Ukir Lampung diharapkan tidak hanya dikenal di Bandar Lampung dan tingkat nasional, tetapi mampu menembus pasar internasional sebagai produk ekonomi kreatif yang membawa nilai dan identitas budaya Lampung. Program ini sekaligus mendukung SDGs Goal 8 dan Goal 9, dengan semangat “Teknologi Menyala, Tradisi Berdaya”.