Bandar Lampung – Dalam rangka memperingati Dies Natalis Universitas Malahayati ke-32, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Malahayati menggelar Diskusi Publik bertema “Penguatan Peran Kampus sebagai Benteng Ideologi Bangsa: Strategi Intelektual Mencegah Radikalisme dan Terorisme di Perguruan Tinggi”, sebagai upaya menjaga mahasiswa dari pengaruh paham radikalisme dan terorisme.

Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa Universitas Malahayati dari berbagai program studi, serta dihadiri oleh perwakilan BEM dari sejumlah universitas di Kota Bandar Lampung dan Organisasi Kepemudaan (OKP) Cipayung Plus Kota Bandar Lampung. Kehadiran berbagai elemen tersebut mencerminkan komitmen bersama dalam memperkuat peran kampus sebagai ruang intelektual yang aman, inklusif, dan berlandaskan nilai-nilai kebangsaan.

Diskusi publik ini menghadirkan sejumlah narasumber yang kompeten di bidangnya, di antaranya perwakilan Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Lampung, Dr. Mirza Pahlavi, yang menekankan pentingnya moderasi beragama di lingkungan perguruan tinggi sebagai benteng utama pencegahan radikalisme.

Selain itu, Kasat Intelkam Polresta Bandar Lampung, AKP Andy Yunara, S.H., M.H., mewakili Kapolresta Bandar Lampung, memaparkan peran strategis mahasiswa dalam mendeteksi dan mencegah penyebaran paham ekstremisme di kampus.

Turut hadir Ketua Umum FKUB Provinsi Lampung, Prof. Bahruddin, M.Ag, yang menyoroti pentingnya dialog lintas iman dan penguatan toleransi sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sementara itu, Sulthon Arifudin dari Yayasan Mangku Bumi Putra Lampung, seorang mantan narapidana terorisme (Napiter), membagikan pengalaman hidupnya sebagai pembelajaran nyata mengenai bahaya paham radikal dan pentingnya kembali pada ideologi bangsa Indonesia.

Dalam sambutannya, Presiden Mahasiswa Universitas Malahayati, Muhammad Kamal, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh stakeholder yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut, khususnya para narasumber yang telah berbagi wawasan dan pengalaman kepada mahasiswa.
Menurutnya, peringatan Dies Natalis Universitas Malahayati ke-32 harus dimaknai lebih dari sekadar kegiatan seremonial. “Momentum Dies Natalis ini kami jadikan ruang edukasi dan refleksi untuk membuka cakrawala berpikir mahasiswa, sekaligus menjaga intelektualitas mahasiswa Universitas Malahayati agar tidak terpengaruh paham-paham yang bertentangan dengan ideologi bangsa,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi soliditas seluruh Pengurus BEM Universitas Malahayati yang hingga akhir masa kepengurusan tetap konsisten menghadirkan kegiatan yang berdampak positif dan strategis bagi mahasiswa serta civitas akademika.

Sementara itu, dalam Keynote Speech, Rektor Universitas Malahayati Dr. H. Muhammad Kadafi, S.H., M.H., yang diwakili oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik, Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes, menyampaikan sambutan positif dan rasa bangga terhadap inisiatif BEM Universitas Malahayati.
Ia menilai kegiatan diskusi publik tersebut sebagai wujud nyata kontribusi mahasiswa dalam menjaga kampus sebagai benteng ideologi bangsa, sekaligus mendukung upaya pencegahan radikalisme dan terorisme di lingkungan perguruan tinggi.
Dengan terselenggaranya diskusi publik ini, BEM Universitas Malahayati berharap mahasiswa semakin memiliki daya kritis, pemahaman kebangsaan, serta kesadaran kolektif dalam menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.